Home » Uncategorized » Dia

Dia

Sudah lama sekali saya mendam postingan ini di draft, baru naik sekarang. Ini cerita tentang seseorang yang sudah menemani saya selama 3 tahun. Menerima saya apa adanya yang dulu masih mahasiswa labil kere, sekarang masih labil sih, cuma minimal udah ngga mahasiswa dan sedikit naik level dari kere menjadi sedikit tidak kere.

Baik saya mau cerita tentang dia, bukan tentang kere tadi. Alkisah dulu ada ketika saya mahasiswa dan akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan dengan dia dan menjalaninya selama 3 tahun terakhir ini.

Banyak sekali kisah manis yang menyatukan kita selama tiga tahun ini. Tidak terhitung sudah ratusan kilometer jarak yang kami tempuh untuk dapat bertemu. Tidak sedikit pula biaya, pengorbanan dan tenaga yang dihabiskan untuk pertemuan pertemuan kami.

Suka duka yang kami lalui bersama semakin terasa di bulan bulan berikutnya. Kami menikmati setiap waktu yang kami bisa habiskan bersama. Melakukan kegilaan kegilaan dan kebodohan yang kami lakukan. Dengan wajahnya yang innocent nyaris tanpa ekspresi itu bisa berubah menjadi sangat ekspresif. Begitu menyadari kesalahannya, mukanya akan memerah, rona itulah yang membuat saya jatuh cinta. Dia punya kebiasaan melakukan setiap kata kata yang akan dia ucapkan, sepertinya dia mengalami ketidak sinkronan antara apa yang dia pikirkan dan apa yang dia ucapkan. Kalau sedang marah, rona merah itu akan ditambah dengan gembungan pipi yang sangat menggemaskan.

Tahun kedua, cobaan semakin besar menempa kami, dengan status mahasiswa saya yang akan segera berakhir dan pekerjaan yang benar benar menguras tenaga ditambah skripsi yang semakin dekat dengan deadline membuat saya menjadi temperamental. a boy in early 20 with a lot of problem. How pathetic am i! Kita banyak diuji dengan ketidaksabaran saya, yang kadang diimbangi dengan kekurang cekatannya melayani saya membuat kasabaran saya sering habis. Tapi percayalah, semua itu hanya sesaat. Saya bisa menjadi manusia, semanusia manusianya manusia, adalah ketika saya berada didekatnya.

Kita bersusah payah bersama. Kredit handphone sampai ngga kuat makan. Lebih memilih uang makan jadi pulsa dari pada jadi nasi atau selembar tiket travel. Menaruh barang2 paling berharga kita ditempat menyelesaikan masalah tanpa masalah.. hahaha..

Dari situ kesalahan demi kesalahan terus saya lakukan. Kebandelan kebandelan khas remaja seumuran saya yang tentu saja masih belum mudah untuk berpikir serius. Dan godaan untuk mendua pun muncul. Begitu banyak wanita wanita yang dekat dengan saya, dan ketidak mampuan saya melihat sisi keindahan wanita, membuat saya seakan tidak memiliki perhatian dan cinta lagi. Kami memutuskan untuk sementara berjalan dijalan kami masing masing.

Tuhan punya kehendak lain dalam drama kehidupan kami nampaknya. Dia menyatukan kembali hati kami. Saya sadar, ini buah keteguhan hatinya kalau kami masih bisa bersama kembali dengan semua kekurangan yang kami miliki kami sebagai manusia. Saya yang tidak matang secara umur dan ekonomi. Dia yang dengan cintanya saya anggap memenjarakan kebebasan naluri lelaki saya. Kami bertekad untuk memperbaiki ini kembali.

Saya belum berubah nampaknya, dan Tuhan sekali lagi menguji kami. Saya masih belum cukup dewasa untuk menghargai seluruh perhatian dan cinta yang dia berikan kepada saya. Denagn kesalahan yang sama, masih dengan ketidakcukupan kematangan saya dalam mengerti perhatian yang dia berikan saya sekali lagi saya tergoda pada keindahan tubuh dan kecantikan wanita lain. Mata yang tak bisa berfokus dan ketidak mampuan saya menjaga hatinya membuat untuk kedua kalinya saya kehilangan dia.

Dan sepertinya ada perhatian yang lebih banyak tercurah padanya dari orang lain. Dan dia menerimanya. Dia sangat tampan dan berkelas. Seperti apa yang diidamkannya selama ini. Saya tidak menyalahkan pria itu. Saya menyalahkan diri saya sendiri mengapa saya tidak mampu menjaga dan mempertahankan dia dengan baik. Ketidak tahuan saya dan keterbatasan saya dalam memahami dia membuat saya kehilangan dia untuk kedua kalinya.

Bencikah saya kepada dia? berhentikan hubungan kami? ternyata tidak cukup untuk menghalangi kami untuk tetap saling memberikan perhatian dan kasih sayang kami masing masing. Kami masih tetap saling mencintai dan memiliki, setidaknya menurut saya. Kami masih saling mengasihi, peluk dan ciuman sayang, chatting setiap waktu dengan dia. Kadang terbesit dipikiran saya, bahwa saya sangat jahat dan tidak fair dengan dia dan pria nya. Ah, kami masih saling cinta, ya kan mumu?

This is our last best moment :

12 Nov – regular meeting with her, barengan dari pagi sampai malam hari

13 Nov – Nganter kuliah sampai malem. Have some fun together.

16 Nov – With Ivanna n her, nonton real steel. telat ya?

19 Nov – All day long with her. took her at university, perpanjangan SIM, berobat ke rumah sakit.

Pengin nonton jazz tapi gagal gegara ribut ama pria nya.

20 Nov – Rayain ulang tahun dia yang ke 26. how old you are girl.

22 Nov regular meeting. Makan malam

25 Nov – Have dinner with ratih, ivanna, tayuk. last night with her

26 Nov – Say good bye.. What a wonderful time with you. You give it for the last time before i leave.

Next meeting? dunno.. hopefully soon

Disini saya menempa diri, Mendewasakan pikiran dan meraih semua yang bisa saya raih.

Pulang ke Semarang. Danindra will be 178 cm/ 75 Kg. Lebih dewasa, lebih matang, lebih tampan. *narsist

See you soon Ta.. I love you

 

Danindra

Dedicated for Indah Purnamasari

http://indahisme.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s