Home » Uncategorized » Senja, Ubud, dan Kamu

Senja, Ubud, dan Kamu

Akhirnya nasib membawa kami kesuatu tempat dimana nyaris hanya kami yang punya.

Dimana semua yang ada mendukung kami untuk bersatu kembali, Semoga ~ DK

Bingung mau mulai dari mana. Setelah badai yang kencang menerjang kami dan meyakinkan kami untuk memulai semua dari awal dan merasakan bahwa kami nyaris sudah tidak terpisahkan lagi, akhirnya kami bertemu kembali. Untuk dua minggu ini setidaknya. Di tempat yang kata orang penuh cinta dan surganya pantai di Indonesia ini kami bertemu kembali. 2 minggu lebih kami bersama. Menjelajah setiap jengkal pantai yang ada di pulau dewata ini berdua. Ditemani oleh si Katana Putih kesayangan saya yang menemani saya kemanapun saya pergi. Ya, sekarang kami tidak hanya terpisah oleh kota. Kami dipisahkan oleh 2 provinsi, 1 pulau, 1 selat, dan entah berapa puluh kota membentang dari Semarang sampai dengan Jimbaran, kota saya sekarang berada. Namun betapa jauhnya jarak, betapa lamanya waktu yang dibutuhkan, dan seberapa lelah tenaga ini terkuras untuk menempuh ratusan KM itu semoga tidak lantas membuat kami semakin terpisah.

Okey, udah ya galau nya. Kalau diteruskan ini bukan jadi postingan jalan2 malah akan jadi postingan galau gara gara kangen tak berujung. Haishh.. Berawal dari ketidak kuatan dia bekerja di salah satu bank swasta nasional itu akhirnya dia memutuskan bahwa sudah cukup berkarir selama 5 tahun sebagai frontliner. 3 tahun di Bank Biru, setahun disebuah telco, dan 1 tahun di tempat sekarang tidak menghasilkan banyak kecuali rasa capek tidak berkesudahan, studi yang tidak kunjung rampung, uang yang tidak tau kemana arahnya serta rambut semakin menipis karena tersasak tiap hari. Dan dia sudah tidak kuat lagi. Membuat sebuah keputusaan yang tentu tidak mudah dan membutuhkan keberanian luar biasa dari dia untuk benar benar meninggalkan dunianya yang sekarang. Jujur saya salut dengan keberaniannya mengambil keputusan dan memulai awal baru dalam hidupnya. Dia berhasil memilih dan melakukan apa yang dia suka. What a lucky and brave girl you are.

Yang jelas dia memutuskan untuk mengunjungi saya di salah satu surga pantai di sebelah timur Indonesia. Bali, tempat dimana saya mengumpulkan segenggam demi genggam berlian untuk bekal kami nanti. Saya menjemput dia di terminal bus di Denpasar. Entah kenapa dia tidak mau menempuh jalan udara yang kala itu dalam keadaan murah dan terjangkau oleh kantong kami. Ketika pulang baru terungkap. ternyata dia takut terbang. Ralat- bukan takut terbang, tapi takut ketinggalan pesawat dan harus tenteng koper sana sini berpindah dari terminal keberangatan satu dan yang lain. Akhirnya jalan darat yang melelahkan pun dia tempuh. Terharu dan senang rasanya ketika pertama kali melihat dia berjalan menghampiri saya. Mengenakan kaus ungu milik salah satu komunitas blogger yang dia ikuti. Di padu dengan jeans kesayangannya. Tas hitam kuning warisan saya serta beberapa dus oleh oleh yang dia bawa dari semarang. Wajahnya kuyu, menandakan betapa lelah perjalanan yang telah dia temput. Tau kalimat apa yang pertama kali terucap, “Mbill, pengin pipis”.

Kami sepakat untuk langsung menuju ke tempat saya tinggal sekarang dan mengunjungi pantai pertamanya dan mencari makan. Kami menuju ke sebuah tempat makan Padang. Haiyah, di Bali, dan kami makan masakan Padang. Begitulah kami, tidak punya patokan dan aturan harus makan ini dan itu pada jam sekian. Yang penting ada nasi, makanan tidak berdaging, dan ada teh hangat sudah cukup untuk meredakan rasa lapar kami. Malamnya kami habiskan di sebuah pusat oleh oleh di Denpasar. Heran, baru juga hari pertama, sudah ke Pusat Oleh Oleh aja. Hari pertama yang melelahkan, saya memilih untuk membiarkan dia beristirahat dahulu. Tubuhnya pasti sangat lelah oleh jarak yang kemarin ditempuhnya.

Hari kedua, Gunung tampaknya menjadi pilihan yang bagus. Disamping karena saya harus bekerja terlebih dahulu mengunjungi Kantor Cabang Pembantu FedEx Ubud yang menjadi tanggungan saya.Kami menuju ke Sanur terlebih dahulu. Ada sebuah tempat makan legendaris bernama Rumah Makan Mak Beng. Ikan goreng, sup ikan dan sambalnya konon adalah yang paling enak di Pulau Dewata ini. Nampaknya memang tidak terlalu salah. Kami harus antri untuk sekedar mendapatkan tempat duduk. Dia sudah lemas sepertinya. Waktu menunjukkan pukul 2.00 lebih. Sudah lewat jauh dari jam makan siangnya. Pesanan datang juga. Dia yang sudah setengah merem akhirnya makan sedikit, maag kambuhan yang sudah lama dia punya berontak karena telat diisi. Apa obat sakit Maag? promaag? bukan, ternyata obat yang paling mujarab adalah pantai. Dia yang semula sudah lemas langsung berbinar melihat ruapan ombak Sanur yang kencang. Langit luar berbatas cakrawala menjadi latar belakang pantai ini. Mencoba beberapa teknik foto yang entah dia pelajari dari mana. Siapa yang malang menjadi modelnya?  tentu saja saya. Entah berapa kali saya harus lompat untuk mendapat foto yang dia inginkan.

Lanjut perjalanan kami ke Ubud. Mampir ke kantor saya sebentar untuk sekedar merampungkan pekerjaan yang tertunda selama saya diperjalanan. Kami menuju tempat bernama Tegal Alang terrace. Sebuah persawahan yang membentang jauh. Hijau. Asri. Kami memilih tidak lama berada disana karena tidak menemukan suatu yang menarik, aih, begini mah banyak di Jawa, begitu dia bilang.

Kami berpindah ke Starbucks Ubud. Starbucks? iya ada satu starbucks di Ubud yang kami rasa patut untuk di Kunjungi. Letaknya di dekat pura Ubud. Dekat arah menuju Monkey forest. Kalau dari Jln Raya Andong ketemu dengan Patung besar, nah di perempatan itulah anda belok kanan mengikuti jalan itu. Kenapa starbucks ini kami kunjungi? karena disini starbucks nya sangat otentik. Gedung tua yang bernuansa bali kental, kursi kursi kayu dan satu yang paling bagus. Latar belakangnya adalah sebuah panggung sendra tari dimana ada kolam bunga lotus yang sangat indah. Saya kurang suka mengambil foto2. Agak menyesal sebetulnya. Dia yang mempunyai banyak foto disini. Kapan kapan saya update lagi ya. Kami menghabiskan senja disana. Menikmati matahari tenggelam dan siluet panggung sendra tari yang luar biasa membuat kami begitu menikmati senja kala itu. Lotus lotus yang tumbuh di kolam itu penuh dengan ikan ikan dari mulai ikan nila sampai koi berukuran selengan orang dewasa. Kami beruntung nampaknya. Lotus itu sedang berbunga. Putih, bersih. Kuncupnya yang hijau mulai merekah menunjukan kelopaknya yang indah. Bersambung ya.. Saya balik kantor dulu :p

With love

Danindra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s